Malamku; Diawali Tanpa Huruf Kapital, Dijalani Tanpa Spasi, dan Diakhiri Tanpa Titik

Malam adalah tempat dimana rembulan merebut singgasana mentari, tempat dimana gelap merajai langit tanpa belas kasihan, dan waktu dimana keangkuhan rasa menari indah diatas ringkihnya logika. Ku cintai malam meski sehitam jelaga darahmu, seterang apapun biasmu.

Namun, Aku, yang selama ini memuja malam hingga pagi menjelang, tersentak saat separuh mimpi yang dengan indah ku rangkai, dengan gemulai ku ukir, dan dengan sombong ku banggakan, mulai memudar seiring awan gelap menutupi rembulan.

Aku, yang selama ini percaya akan temaram sinar rembulan, terhanyut bersamaan dengan hilangnya bintang di kanvas indah ku bernamakan langit; ia hilang tertutup awan hujan. Layaknya aku yang kehilangan nada saat sedang indah bersenandung.

Malamku pernah lebih baik dari ini. Saat aku bersandar pada garis senja yang menghantarkan aku padamu; rindu.

Jika malam ini rembulan bergelut manja dengan bintang, itu tidak lebih baik dari malam ku saat bersamamu yang kini telah hilang entah dimana adanya.

Anggaplah aku hanya berwujud mimpi. Hadir sebagai bunga bagi tidurmu dan menghilang, kabur, saat kau terjaga dan bersentuhan dengan langitmu; dunia milikmu sendiri.

Aku; Pengucap Rindu Dalam Sendu

 

Mereka bilang jarak dan waktu bukanlah penghalang. Bagiku tidak. Pedih. Bagai serpihan kayu yang tertancap di sela jemariku. Perih, namun tak mudah ku obati. Sama seperti aku pada kita; letih menahan rindu, menaruh harap, namun tak mampu ku ucap.

Mereka bilang jarak dan waktu bukanlah alasan. Bukan alasan untuk berpisah? Mungkin bagimu tapi tidak bagiku. Itu, jarak dan waktu,  alasan klisemu yang turut serta membunuh mimpi dan duniaku dalam senyap dan diam.

Mereka bilang jarak dan waktu bukanlah alasan. Saat kau menghilang tenggelam bersama dunia mu, kau rantai kaki ku untuk berlari mengejar asa, menikmati waktu ku. Ku ikuti mau mu. Aku, dengan rendah hati menyusuri dunia yang luas dengan perlahan, lalu tertinggal oleh nya. Untukmu.

Jujur saja jika tempatku sudah tak lagi ada di hidupmu.  Tempatku sudah tersingkirkan oleh mereka dan dunia mu yang baru. Jika benar, ku temani kau di saat senggang mu; saat kau jenuh bersenda gurau dengan mereka. Jadikan aku pelarianmu. Aku tak apa. Kau pun juga tak tahu berapa kali rindu ku ucap, berapa banyak pilu yang ku pendam. Baik bagimu namun tidak bagiku.

Atau, aku kah itu? Lenyap layaknya serbuk gula yang kau seduh bersama kopi senja mu saat kau tertawa lepas bersama dunia baru mu? Atau, aku adalah pelangi di hidup mu? Datang membawa keindahan selepas kau lari dan sembunyi dari hujan badai, lalu hilang sesaat setelah mentari kembali menyapa. Menurut mu, kau masih adil.

Aku; sosok yang berdiri ringkih bergantung harap, menjual senyum untuk menepis sendu, dan mengucap rindu untuk menemani waktu senggangmu.

10 Quote Galau-galauan ala @fdhln_

10 Quote Galau-galauan ala @fdhln_

Kata “galau” saat ini sudah menjadi salah satu “teman hidup” bagi sebagian besar anak muda yang bisa dibilang terlalu mudah terbawa perasaan (re: baper). Galau sendiri menurut KBBI bisa diartikan sebagai sebuah perasaan dimana pikiran kacau tidak karuan.

Fokus kita sekarang ke cinta-cintaan ya, dimana sebagian besar anak muda jaman sekarang bakal lebih kelihatan galau di problem yang satu ini. ‘Gak cuma cewek, yang sering dianggap mudah galau dan mudah terbawa perasaan, cowok juga bisa.  Fase dimana cowok kelihatan galau bukan pada saat mereka ditinggal kekasih hatinya. Galaunya muncul beberapa saat setelah momen perpisahan itu (percaya aja!).

Udah ‘ah. Kalo dilanjutin, baca nya bisa sampe besok pagi (based on true story soalnya). Ini dia “10 quote galau-galauan ala @fdhln_”.

“Aku tidak akan pernah bisa melupakan kenangan. Aku hanya mengikhlaskan nya untuk mu.”

“Kita berdua saling berusaha. Saat aku berusaha merangkai mimpiku bersamamu, kau pun berusaha untuk melanjutkan hidupmu tanpaku.”

“Aku tidak pernah luka saat hidup denganmu atau saat ini, hanya dengan bayangmu.”

“Kau tahu apa yang sedang aku usahakan? Terlihat tak mencintaimu.”

“Maafkan aku jika aku terlalu mencintaimu dan kau pun aku maafkan untuk mencintaiku semaumu.”

“Maaf jika aku tak mampu membendung rindu saat kau tengah bercumbu mesra dengan masa depanmu.”

“Ingatlah. Kita pernah sedekat mentari senja menuju peraduan nya sebelum seperti saat ini, ketika ia berteriak jauh, keras, dan lantang di singgasana nya.”

“Menurutmu, mungkin, cinta tidak berdasarkan pada usahaku dan hanya berdasarkan pada pemenuhan kebutuhanmu. Aku menyerah.”

“Kau tahu apa kesalahanku? Jatuh terlalu dalam pada kisah fana mu salah satu nya.”

“Jika bersamamu aku harus mengorbankan diriku, mimpiku, dan hidupku, aku pergi. Karena aku sadar, jika kau beranjak pergi, aku kehilangan satu hal lagi di raga ini, hatiku.”